Featured Posts

Sabtu, 20 Juli 2013

Waduh Anda Harus Bayar 75 Juta Untuk Bisa Shalat Tarawih di Belakang Iman

Waduh Anda Harus Bayar 75 Juta Untuk Bisa Shalat Tarawih di Belakang Imam. Setahu saya shalat di manapun kalau berjemaah siapa yang datang duluan maka ia akan menampati di belakang imam. Tak peduli rakyat jelata kalau datang lebih dulu maka ia berada di shaf paling depan. Bahkan makruh hukumnya jika seseorang mengalah ke belakang demi seorang pejabat agar berada di depan dalam shaf. Tapi ini unik, untuk shalat jemaah tepat di belakang imam maka harus bayar 75 juta. Wooow.

Seperti dikutip dari blog sahabat kita unikbaca.com, Waduh Anda Harus Bayar 75 Juta Untuk Bisa Shalat Tarawih di Belakang Imam.  Shalat tarawih belakang imam bayar 75 juta rupiah. Tidak tahu apakah bisa dibenarkan atau tidak, terdengar edan dan gimana gitu tempat untuk shalat dibayar 75 juta jika mau shalat. Bisa sholat Tarawih di Masjidil Haram adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang muslim. 

Di antara 1 milyar lebih umat islam di dunia, tidak banyak orang yang beruntung mengecap kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan itu akan bertambah jika bisa sholat di shaff pertama di dekat Ka’bah, tepat di belakang imam masjid ini yang terkenal dengan bacaannya yang merdu. Untuk merasakan sensasi religi tersebut, Banyak orang yang rela mengeluarkan banyak uang. 


Sebuah Portal berita bernama al-Sabaq Arab Saudi melaporkan ada beberapa bussinessman di negeri minyak tersebut yang merogoh kocek sebesar 30.000 Riyal (sekitar Rp. 75 juta) untuk men’cater’ tempat sholat di belakang Masjidil Haram di sepulum malam terakhir bulan Ramadhan. Menurut laporan wartawan Abdul Ilah al-Qahthani, para jutawan tersebut membayar orang-orang tertentu untuk mengkavling tempat buat mereka.

Waduh Edan Shalat Tarawih di Belakang Imam Bayar 75 Juta

Maka kemudian beberapa orang bayaran itu akan mencaterkan tempat dari sebelum sholat maghrib hingga subuh. Pada umumnya, para jutawan tersebut datang dari luar kota Mekkah. Ternyata kebiasaan seperti ini sudah berlangsung beberapa tahun terakhir, dan tidak hanya terjadi di Masjidil Haram, tapi juga di Masjid Nabawi. Kira-kira, ini termasuk kategori fastabiqul khairat bukan ya? Entahlah, Wallahu A’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar