Featured Posts

Kamis, 23 Mei 2013

Pesona BBM (BlackBerry Messenger) yang Kian Redup?


detail berita
ilustrasi
DESEMBER 2004, menjadi awal kemunculan BlackBerry di Indonesia. Waktu itu, perangkat garapan RIM (Research in Motion) mendadak menjadi primadona yang berhasil membius masyarakat di Tanah Air.

Seri BlackBerry pertama yang masuk adalah 7730 dan melalui operator Indosat, RIM berhasil melambungkan nama BlackBerry di jagad gadget Indonesia. Awalnya Indosat menawarkan layanan BlackBerry Enterprise Server.

Targetnya adalah untuk kalangan perusahaan, tapi siapa sangka hanya dalam waktu tiga bulan sudah mencapai angka 300 pelanggan dari corporate. Hingga akhirnya dilepas ke pengguna personal pada tahun 2005. Baru setelah itu, operator lokal lain seperti XL dan Telkomsel ikut kepincut untuk menggoda para konsumen menggunakan produk besutan Kanada itu.

Popularitas BlackBerry di Tanah Air pun terus memuncak hingga 2012
. Bahkan, bisa dibilang kehadiran iPhone, Android, dan Windows Phone belum mampu menggesar tahta RIM di posisi teratas. Padahal di luar negeri, BlackBerry sudah babak belur dihajar iPhone, Samsung dan Android.

Patut diakui, masyarakat Indonesia begitu menggemari produk BlackBerry. Umumnya pengguna handset BlackBerry di Indonesia kurang memfungsikan smartphone-nya dengan maksimal. Mereka kebanyakan hanya memakai fitur BBM-nya saja.

Itu terbukti dari data yang teruangkap bahwa lebih dari 60 juta penguna aktif per bulan, dengan lebih dari 51 juta orang menggunakan BBM rata-rata 90 menit per hari. Lalu, apa yang menjadi alasan “dewi cinta” memanahkan hati konsumen Indonesia untuk begitu lengket tak terpisahkan dengan aplikasi ini?

Menurut Senior Product Marketing Manager Mobility and Security, APJ, Marrie Pettersson, mengapa BlackBerry begitu diminati di Tanah Air, menurut Marrie, smartphone tersebut bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti pesan teks, kirim foto serta video. Namun yang paling terpenting adalah penggunaan email untuk kebutuhan kantor yang lebih mudah dibandingkan platform lainnya.

“Ini hasil yang cukup mengejutkan. BlackBerry memiliki share market yang sangat besar di Indonesia dibandingkan di negara lain. Sedangkan di negara luar penggunaan Android yang tertinggi untuk menunjang kebutuhan kantor. Hal ini dikarenakan, aktivitas mobility di Indonesia masih dalam tahap berkembang. Belum seperti negara lain yang sudah sejak lama maju,” ungkap Marrie di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dengan berbagai keunggulannya itu, menjadi wajar bila BlackBerry begitu digandrungi di Indonesia. Tapi itu dahulu, terkini, seiring berjalannya waktu, pesona BBM mulai memudar, terlebih semua yang ada di BlackBerry bisa dinikmati di WeChat, Whatsapp, Kakao Talk, Line, Facebook Messenger dan masih banyak lagi. Semua itu bisa dinikmati melalui Android, dan juga gratis.

Bahkan, untuk mengembalikan kejayaan BBM, BlackBeryy mencoba mengubah peruntungannya dengan masuk ke platform Android dan iOS. Rencannya akan dimulai pertengahan 2013 mendatang.

Meski mengejutkan beberapa pihak sekaligus menyenangkan non-pengguna BlackBerry, namun keputusan ini dinilai berani. Lalu yang mejadi alasan BBM hadir di perangkat robot hijau dan iOS rupanya untuk menghindari pengguna BlackBerry itu sendiri pindah ke lain hati dan menarik hati konsumen potensial yang jauh lebih besar.

“Ini merupakan waktu yang benar-benar pas bagi BBM untuk menjadi layanan multi-platform mobile. BBM akan selalu menjadi salah satu layanan yang paling menarik bagi pelanggan BlackBerry, karena memungkinkan mereka untuk dengan mudah terhubung setiap saat dan mempertahankan privasinya,” ujar Wakil Presiden Software BlackBerry, Andrew Bocking seperti dikutip USAToday.

“Kami sangat gembira pengguna iOS dan Android berkemungkinan untuk bergabung dengan komunitas BBM,” sambungnya.

Langkah ini diambil oleh BlackBerry lantaran melihat pasarannya yang kian menurun dan banyaknya pengguna yang beralih ke platform lain.

Menurut laporan forum Crackberry, hengkangnya pengguna BlackBerry dari BBM terjadi di hampir negara seperti Amerika Serikat, Australia, Hong Kong, Thailand, India, Filipina, Singapura, Vietnam dan Malaysia sejak Oktober 2012 lalu.

Bahkan, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, Tifatul Sembiring mengungkapkan penjualan BlackBerry saat ini menurun hingga sebesar 70 persen, seperti disitat dari Techinasia. Timbul pertanyaan, apakah ini pertanda kejayaan BlackBerry mulai meredup.?

Bagaimana dengan Indonesia. Akankah mengikuti jejak negara lain untuk mengucapkan goodbye.. (selamat tinggal) selamanya pada BlackBerry. Tunggu saja…

0 komentar:

Poskan Komentar