Featured Posts

Rabu, 22 Mei 2013

Inovasi dalam Mengedit Foto 3D Dikembangkan

Depth maps menawarkan lebih dari sekadar penghapusan objek pada foto 3D, memungkinkan juga mengedit foto lebih jauh.

touch,teknologi sentuhIlustrasi (Image Source/Corbis)
Menghapus objek dari foto dua dimensi sudah dimungkinkan sejak beberapa tahun lalu, saat Adobe menghadirkan tool "content aware fill" pada perangkat lunak pengolah gambar mereka, Photoshop. Kini, bekerja sama dengan peneliti asal Brigham Young University (BYU), Amerika Serikat, Adobe berupaya menciptakan inovasi, yakni metode untuk menghapus objek yang tidak diinginkan dari foto tiga dimensi.

Sebuah gambar 3D sebenarnya merupakan sepasang gambar yang diambil dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Satu dari kiri dan satu dari kanan. Konsepnya sama seperti mata kita yang menangkap kedalaman gambar. Gambar kemudian ditampilkan secara “stereo” dan penyuntingan terhadap salah satu gambar berkaitan dengan pengeditan di satu gambar lainnya.

“Jika Anda berusaha untuk menunjukkan gambar secara stereoskopis dan ternyata tidak terlalu pas, maka itu akan sangat mengganggu mata,” kata Bryan Morse, peneliti asal BYU. “Anda harus mengisi ruang namun dengan cara yang tetap menjaga konsistensi antara kiri dan kanan,” ucapnya.

Algoritma yang dikembangkan oleh Morse dan Joel Howard dari BYU serta Scott Cohen dan Brian Price dari Adobe sendiri berhasil meraih penghargaan sebagai artikel penelitian terbaik pada ajang konferensi 3D imaging yang digelar oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE).

Dalam laporannya, para peneliti menyebutkan, langkah pertama dalam proses editing yang mereka lakukan adalah yang tersulit. Yakni menentukan kedalaman setiap objek dan piksel pada gambar. “Depth map” istilahnya, menunjukkan seberapa jauh piksel pengganti harus mengisi lubang objek yang dihapuskan.

Depth maps sendiri menawarkan lebih dari sekadar penghapusan objek pada foto 3D, mereka memungkinkan kemampuan edit foto yang lebih jauh. Sebagai contoh, saat ini Morse tengah mengembangkan ekstensi yang dibuat secara khusus untuk mengatur pencahayaan setiap objek dalam gambar yang memiliki kedalaman berbeda. Jika Anda dapat menggeser sumber cahaya pada sebuah foto yang sudah diambil, bayangkan potensi yang bisa dihadirkan.

Dengan munculnya teknologi editing foto 3D, fotografer dapat mengambil gambar dengan kamera 3D hanya untuk mendapatkan informasi kedalaman yang bisa mereka gunakan untuk mengedit foto yang ditujukan untuk ditampilkan secara dua dimensi seperti biasa. “Anda bisa menggunakannya untuk membantu Anda bahkan saat hanya mengedit satu gambar,” ucap Morse.

Kamera 3D sendiri sudah tersedia cukup lama di pasaran, namun belum terlalu banyak kegunaannya. Saat ini, produsen seperti LG telah menawarkan smartphone dengan dual camera. Fuji sudah merilis harga kamera digital 3D mereka di harga sedikit di atas Rp2 juta. “Pasar untuk layar dan kamera 3D terus tumbuh,” kata Morse. “Namun itu tidak akan melesat sampai tampilan bisa dihasilkan dengan baik tanpa bantuan kacamata,” ucapnya.
(Abiyu Pradipa. Sumber: Phys.Org)

0 komentar:

Poskan Komentar