Featured Posts

Sabtu, 13 April 2013

Kisah Sukses Saptuari Sugiharto, Pemilik Kedai Digital Corp




Dari hanya sebagai penjaga tas, ia kini memiliki perusahaan dengan 31 cabang di 21 kota dan menghidupi 200 karyawan. Modal puluhan juta berkembang menjadi omzet miliaran rupiah. Bermodalkan kegiatan mengamati dan meniru, dan juga memodifikasi, usahanya menggurita sampai ke pelosok nusantara.
Adalah Saptuari Sugiharto (30) yang memelopori pendirian kedai tersebut pada 2005. Tak ada strategi bisnis yang rumit atau modal awal yang besar ketika pria yang akrab disapa Saptu ini memulai usahanya membuka Kedai Digital. Sebagai anak muda yang cukup gaul, konsep usahanya pun terdengar nge-pop dan sederhana. Terinspirasi dari  aktivitas gaul bersama teman-temannya di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, yaitu “ATM” dan “PISS”. Ini konsep yang dilahirkannya sendiri. Konsep ini dipegang teguh olehnya, hingga pria bertubuh tegap ini menjadi salah satu wirausahawan muda potensial di tanah air.

“ATM” yang dimaksud adalah Amati, Tiru, dan Modifikasi, sedangkan “PISS” merupakan kepanjangan dari Positive Thinking, Ikhtiar dan Ikhlas, Sedekah, dan Sukses dunia akhirat. Di tengah menjamurnya kreativitas anak muda di tanah air, serta maraknya barang dan jasa yang ditawarkan di pasar, konsep “ATM” Saptu ternyata ampuh.

Ia, misalnya, tidak perlu menciptakan produk baru, yang mungkin membutuhkan dana miliaran rupiah untuk riset dan pengembangan produk (R&D). Dia cukup mengamati produk yang telah ada 6 pasaran dan diminati masyarakat, kemudian menirunya. Tetapi tidak meniru 100 persen, melainkan memberikan sentuhan modifikasi, sehingga produk yang dihasilkan benar-benar berbeda. Tak heran bila produk-produk Kedai Digital cukup diminati masyarakat.

“Kalau Saptuari hanya meniru saja, ia pun akan ditiru dan dapat tamat sekejap”

TERINSPIRASI TAWURAN
Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptu telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah, beberapa usaha dijalaninya. Mulai dari menjaga tas di koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker hingga sales dari agen kartu seluler dan rokok. Perubahan besar terjadi pada 2004, ketika Saptu bekerja sebagai event organizer disebuah perusahaan di Yogyakarta. Ia terheran-heran melihat salah insiden dalam konser Dewa di mana para penggemar ribut sampai memicu tawuran hanya karena berebut merchandise sang artis.

Dalam benak Saptu, merchandise berlogo atau bergambar sele­briti seperti t-shirt, pin, topi dan lain sebagainya itu, sebetulnya dapat dibuat dan diperbanyak sendiri. “Jadi, tak perlu tawuran segala. Dari situ saya pikir, merchandise juga sebenarnya bisa dipersonalisasi untuk setiap orang, dan bisa jadi hadiah,” ungkapnya.

Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 mantan marketing Swaragama FM itu mengambil langkah berani. Ia mendirikan Kedai Digital – perusahaan yang memproduksi barang-barang cinderamata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Untuk modal awal, ia rela menjual motor dan meminta orangtua menggadaikan rumah keluarga, akhirnya terkumpul modal sebanyak Rp 28 juta.

Butuh waktu enam bulan baginya untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Prioritas awal, ia mesti mencari mesin digital printing. Beruntung, mesin itu ditemukannya di Bandung. Ia juga mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendiri. Mulailah dia memproduksi beberapa merchandise. Pada mulanya masih terbatas pada kaos dan pin. Ketika mulai stabil, Saptu memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni, yang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, ia meminta bantuan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain, yang juga tersebar di kota itu. Pada awalnya, target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa.

Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp 400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp 900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp 1,5 miliar. Bermula dari sebuah ­kios kecil di daerah Gejayan, Yogyakarta, kini Kedai Digital memiliki outlet di 21 kota di tanah air. Di antaranya di Jogyakarta, Solo, Semarang, , Magelang, Kudus, Klaten, Purwokerto, Sukoharjo, Wonol Madiun, Malang, Surabaya, Jember, Balikpapan, Sukabumi, Denpasar, Medan, Padang, Batam, Pekanbaru, dan Banda Aceh.

Narsisisme Bisnis Merchandise Kedai Digital
SAPTUARI SUGIHARTO memilih menaruh rapat-rapat ijazahnya dari Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, demi menumbuhkan naluri bisnisnya. Wirausaha yang telah dirintisnya kuliah – mulai dari berjualan stiker, menjaga koperasi, sampai berjualan ayam potong – membuat insting-nya terhadap bisnis lebih terarah. Itu juga yang menjadi salah satu modal utamanya untuk memulai bisnis personal merchandise dan digital printing, Kedai Digital. Berdiri lima tahun lalu ini awalnya hanya memproduksi mug, pin, dan kaos yang dicetak eksklusif dengan foto diri pemesan. Tak disangka, usaha ini membuahkan hasil dan memperoleh pengakuan dari berbagai pihak. Saat ini Kedai Digital telah berkembang menjadi 31 kedai dan beromzet puluhan juta rupiah tiap bulan­nya. Keberhasilan ini merupakan buah dari prinsip Saptu, untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain.

Di Yogyakarta, Saptu juga mendirikan Kedai Digital Supply. Pabrik inilah yang menyediakan semua bahan baku untuk prses pembuatan merchandise, yang juga dikirimkan kepada semua partner Kedai Digital. Kini, tak kurang dari 30 mitra di 30 kota turut berkerja membesarkan Kedai Digital. Bile dihitung-hitung, dari hanya mempekerjakan dirinya sendiri dan dua rekannya, Kedai Digital kini mampu menghidupi lebih dari 200 karyawan.

UNIK DAN PERSONA
Saptu mengakui, edukasi pasar mengenai produk Kedai Digital tidak berlangsung kilat. Edukasi pasar berjalan dengan sendirinya. Pada tahun kedua, nampaknya edukasi pasar mulai melembaga. Hal itu terlihat dari omzet penjualan yang mulai naik. Setelah lewat tahun ketiga, kurva penjualannya lebih tinggi lagi. Itu terjadi setelah meraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2007. Waktu itu, ia dan Kedai Digital mulai banyak di-blow up oleh media. Karen, itulah makin banyak orang yang tahu tentang Kedai Digital.

Produk-produk unik dari kedainya, menurut Saptu, memang mengedepankan sentuhan pribadi. Bahkan, bisa juga untuk membangun sisi narsis banyak orang. Apalagi Sekarang banyak orang yang berpikir untuk membuat atau memilikimerchandise barang yang unik. Selain lebih personal, dia juga menekankan sisi kreatif. Beragam produk hasil produksi bisa dimanfaatkan untuk perorangan maupun kelompok hingga perusahaan sekalipun. Tak ayal ini menjadi media ekspresi paling gres khususnya bagi para. remaja. Penyebabnya tak lain adalah kemudahan untuk memiliki satu di antara beragam produk yang ditawarkan alias boleh memesan satu saja. Bahkan, setiap orang bisa saja memesan merchandisesemaunya, sesuai slogan Kedai Digital, “Bikin Mug 84 Satoe Sadja atau Bikin Merchandise Semau Kamu”.

Saptu juga tak mau hanya berhenti di situ. “Kami terus melakukan inovasi. Contohnya foto keramik. Dulu keramik hanya untuk lantai. Sekarang, keramik bisa juga jadi jam dinding dan dicetak foto di atasnya,” kata putra Yogyakarta kelahiran 8 September 1979 ini. Sekarang, produk foto keramik jadi produk favorit. Jadi foto di cetak di atas keramik yang biasanya untuk lantai. Keramik berfoto itu juga bisa dijadikan jam dinding. Kapasitas produksi Kedai Digital sendiri beragam untuk setiap jenis produk. Untuk foto keramik, misalnya, kapasitas produksinya bisa mencapai lebih dari 8.000 per bulan Sedangkan mug mencapai sekitar 15.000 mug per bulan.

Usaha Kedai Digital terus berlanjut. Baru-baru ini misalnya Kedai Digital tahun ini mengenalkan brand baru berupa Kedai Digital Cutting. Bisnis ini lebih spesifik, yaitu berupa pembuatan kaos. Uniknya, konsumen bisa memesan desain dan tulisan sesuai selera meski hanya satu kaos saja. “Di Kedai Cutting siapa pun bisa memesan kaos semaunya. Kata-katanya silakan mau bikin yang lucu atau apa pun. Desainnya pun terserah,” lagi-lagi Saptu menyerahkan keputusan kepada pelanggannya yang kebanyakan anak muda – yang memang banyak maunya.

Kedai Digital Cutting ini dalam sekejap mendapat respons luar biasa dari anak-anak muda. Tidak sedikit pasangan anak muda yank membuat kaos dengan tulisan dan warna yang sama. Kemudian dan kebebasan memilih desain, warna, dan tulisan ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri. Saptuari juga membuka kesempatan untuk para investor yang ingin memiliki usaha seperti ini dengan sistem kemitraan Business Oportunity (BO). Saptuari berharap, kehadiran konsep bisnis ini anak muda bisa mengekspresikan kreativitasnya di kaos. “Mereka bisa mengekspresikan kreasinya lewat kaos, sehingga bisa diasah,” katanya.
Ide sepertinya tak akan pernah hilang dari benak Saptu. Dengan segala kreativitas dan upaya menjalankan kemitraan dengan baik, tak heran bila Saptuari – lulusan Jurusan Perencanaan Pengembangan Wilayah Fak. Geografi Universitas Gadjah Mada (2001) – dianugerahi Indonesia Small & Medium Business Entrepreuner Award (ISMBEA) pada Agustus 2008.

"Saya ingin berpesan, jadilah mahasiswa yang kreatif dan tidak hanyu berpangku tangan. Mulailah berani berwirausaha tanpa harus menunggu diwisuda."

salam sukses!

0 komentar:

Poskan Komentar