Rabu, 20 Februari 2013

Cerita inspirative, Kisah Sukses Merry Riana

Membaca cerita sukses Merry Riana, kita seperti melihat keajaiban: dia mampu mengumpulkan kekayaan sebesar S$1,000,000 (sekitar Rp 7 milyar), hanya empat tahun sesudah menuntaskan kuliah dengan gemilang di Jurusan Electrical & Electronic Engineering di Nanyang Technological University (NTU), Singapura.
Dia kini memimpin 50-an konsultan dan manajer di bidang konsultasi keuangan dan sebagian besar di antaranya warga Singapura. Dia juga meraih berbagai penghargaan, baik di saat kuliah maupun setelah menjadi wirausahawan. Bahkan, dialah motivator wanita termuda di Asia dan menghasilkan buku laris “A Gift from A Friend” yang diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa. Tapi, betulkah itu cuma keajaiban?
Seperti tanaman, bibit yang baik hanya akan tumbuh subur jika kita menyiapkan tanah dan pupuk yang baik. Begitu juga keajaiban. Keajaiban pada dasarnya datang menghampiri orang-orang yang selama hidupnya bekerja keras dan berbuat yang terbaik dengan tujuan hidup yang jelas.
Keajaiban sebenarnya merupakan buah dari “multi upaya” yang kita lakukan bertahun-tahun. Atau, mengutip ucapan Merry dalam “A Gift from A Friend”, “keberuntungan (atau keajaiban) adalah hasil dari saya berada dalam keadaan siap ketika kesempatan itu datang”.
Pada diri Merry, keajaiban datang dari perpaduan visi, tindakan, dan hasrat. Dalam diri perempuan kelahiran 29 Mei itu, visi tak lepas dari kecintaan dan penghormatannya yang mendalam kepada orangtua yang telah mendidik sekaligus membesarkannya dengan segala upaya hingga menjadi orang sukses.
Sebagai anak yang berbakti, dia memang bermimpi untuk membalas kebaikan orangtua dengan memberi mereka kebahagiaan. Tapi Merry sadar, dia hanya bisa membahagiakan orangtuanya di saat mereka masih sehat dan relatif muda, bukan setelah mereka tua dan sakit-sakitan. Hal itulah yang menguatkan tekadnya untuk sukses dan kaya di usia muda. Maka, sulung dari tiga bersaudara ini pun rela merantau sendiri ke Singapura.
Ayah-ibu Merry memutuskan mengirim putri sulungnya ini untuk menuntut ilmu ke Singapura, sesaat setelah kerusuhan melanda Indonesia di bulan Mei 1998. Sebagai anak dari keluarga sederhana, Merry bukan saja membawa bekal materi yang minim, melainkan juga bahasa Inggris yang pas-pasan namun dengan tekad yang membara.
Saat tiba di Singapura, uang di sakunya hanya S$1,000 (Rp 7 juta). Hanya dalam waktu singkat, uang tersebut nyaris tak bersisa untuk membeli buku pelajaran yang harganya mahal dan kebutuhan sehari-hari.
Berhutang untuk Kuliah
Saat diterima di NTU, dia pun terpaksa mengajukan pinjaman S$40,000 (sekitar Rp 280 juta) ke pemerintah Singapura. Itu jumlah yang amat besar untuk seorang gadis lugu namun tetap saja nilainya amat kecil untuk hidup di sebuah negara yang sangat moderen.
Dia pun terpaksa lebih sering mengonsumsi roti dan mie instant untuk mengisi perutnya sehari-hari. Sebagai gambaran, pada tahun pertama kuliah, dia harus bertahan hidup hanya dengan S$10 (Rp 70 ribu) untuk tujuh hari atau Rp 10 ribu perhari untuk makan.
Guna menambah penghasilan, di saat libur, dia bekerja paruh waktu sebagai seorang pelayan restoran (waiter), penjaga toko bunga, dan penyebar pamflet beragam produk di jalanan. Sebagai mahasiswa yang dibekali student pass, dia memang tidak mungkin bekerja di kantor.
Kondisi yang serba minim justru membuatnya bekerja keras dan pantang menyerah. Bahkan, dia berkali-kali mendapat berbagai penghargaan di kampusnya. Di akhir masa kuliah (2006), dia berhasil mendapat gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award” untuk pencapaiannya yang luar biasa di bidang akademik.
Di tengah-tengah kesibukannya belajar, Merry juga menyempatkan diri aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Kegiatan ini membuatnya bisa memperluas jaringan sosial sekaligus meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris.
Setelah selesai kuliah, dia juga berkali-kali menemui kegagalan ketika mencoba berwirausaha. Di awal kariernya menekuni bisnis, dia kehilangan lebih dari S$10,000 (Rp 70 juta) hanya dalam waktu 30 hari saat melakukan transaksi saham. Padahal, uang itu merupakan hasil jerih payahnya selama 4 tahun bekerja saat masih kuliah.
Tak hanya itu, dalam kondisi hampir bangkrut, suatu saat dia kehilangan S$200 (Rp 1,4 juta) saat mendaftar untuk bergabung dalam bisnis MLM (Multi Level Marketing). Di luar dugaan, perusahaan MLM itu menghilang tanpa jejak. Tentu saja ,itu jumlah uang yang amat kecil bagi seorang warga Singapura namun amat berarti untuk Merry yang hanya memiliki sedikit uang di rekening.
Meskipun demikian, berbagai kegagalan memberinya pelajaran yang amat bergharga dalam dunia bisnis, yang tidak didapatnya di bangku sekolah atau kuliah. Wanita yang menyukai lagu “The Greatest Love of All” (Whitney Houston) dan “You Raise Me Up” (Josh Groban) ini pun tetap dengan tekadnya untuk kerja mandiri dan melepaskan peluang untuk menjadi karyawan. Padahal tak ada satu pun orang-orang di sekitarnya (orangtua, dosen maupun sejumlah sahabatnya) yang mendukung rencana tersebut.
Mereka khawatir dengan pilihan tersebut karena Merry nyaris tidak punya bekal apapun, khususnya tiga syarat utama untuk terjun ke dunia bisnis: modal, relasi, dan keahlian. Modal uang bisa dibilang nol, relasi yang dimilikinya hanya jaringan teman-teman kampus, plus keahlian di bidang elektro. Di luar itu, dia masih harus menanggung utang Rp 280 juta kepada pemerintah Singapura.
Namun, tekad dan niat membahagiakan orangtua ternyata mampu mengalahkan semua rintangan. Maka, dengan gagah berani seperti seekor rajawali, dia pun terbang untuk menjemput mimpinya di langit. Dia ingin menjadi orang luar biasa sehingga harus siap dengan cobaan yang juga luar biasa.
Dia tidak mau sekadar menjadi ayam yang mencari makan dengan mematuk-matuk tanah untuk mendapatkan cacing. Dia ingin menjadi Rajawali yang bisa terbang jauh-tinggi dan memilih aneka makanan yang tersedia di alam. Dia tidak rela menjadi bagian dari golongan karyawan yang rutin bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 05.00 sore, dan tentu saja dengan “rutinitas aliran rekening yang itu-itu saja sebagai gaji”.
Sebagai gambaran, di Singapura, sarjana S-1 yang baru lulus hanya mendapat gaji sekitar S$2,500 (Rp 17,5 juta), suatu jumlah yang relatif kecil untuk standar hidup di negara yang memiliki biaya hidup yang tinggi. Sebab, seorang pekerja harus membayar 20% dari gajinya untuk CPF (Contributions Payable for Singapore Citizens atau tabungan wajib untuk hari tua), juga S$1,000 (Rp 7 juta) untuk biaya hidup (makan, akomodasi, transportasi, biaya telepon genggam, dan lain-lain).
Padahal, dia bertekad mengirim S$500 (Rp 3,5 juta) untuk orangtuanya di Jakarta. Otomatis, setiap bulan, uang di kantong hanya tersisa S$500 untuk membayar pinjaman. Dengan bunga 4% pertahun, sedikitnya diperlukan waktu 10 tahun untuk melunasi hutangnya ke pemerintah Singapura.
Belajar Wirausaha
Karena itu, setelah lulus kuliah, dia langsung terjun ke dunia wirausaha sebagai tenaga sales (penjualan) dalam bidang Financial Consultancy (Konsultasi Keuangan). Hanya bermodal waktu dan tekad untuk bekerja keras; 14 jam sehari, 7 hari seminggu, dan nyaris 365 hari dalam setahun. Di saat yang sama, dia menambah pengetahuannya tentang bisnis, baik dengan membaca buku, mengikuti seminar maupun bertanya kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.
Maka, dia pun mulai mencari klien yang berniat melakukan investasi, membeli polis asuransi, dan menabung secara regular (fixed deposit). Hasilnya tidaklah sia-sia. Dalam waktu 6 bulan, peraih gelar “Winner of Nanyang Young Oustanding Alumni Award 2006” ini mampu melunasi hutang sebesar Rp 280 juta.
Dalam waktu 1 tahun, dia berhasil mengumpulkan modal untuk mulai merekrut staf penjualan sekaligus mulai membangun tim impian (The Dream Team). Tim inilah yang menjadi cikal bakal Merry Riana Organization (MRO), perusahaan yang bergerak di bidang Konsultasi Keuangan.
Perusahaan ini pula yang kemudian memberinya kekayaan Rp 7 milyar, hanya 4 tahun setelah lulus dari NTU, saat usianya baru 26 tahun. Dengan begitu, dia pun mewujudkan mimpinya untuk membahagiakan orangtua; mencukupi berbagai kebutuhan mereka dengan kualitas terbaik dan secara rutin mengajak mereka berwisata untuk mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan, baik di dalam maupun luar negeri.
Support dari Suami
MRO yang dijalankan bersama suami tercinta (Alva Tjenderasa) dengan sistem yang baik, mampu berjalan tanpa keterlibatannya secara penuh (auto-run). Dengan demikian, sejak 4 tahun lalu, Merry pun bisa mengejar passion pribadi untuk menjadi motivator dan memberikan inspirasi kepada orang lain.
Belakangan, setelah mengurangi kontrolnya terhadap perusahaan, dia makin sibuk mengunjungi berbagai negara di Asia untuk memberi motivasi dan pelatihan kepada ribuan profesional, manajer, eksekutif, pemilik bisnis, dan tenaga sales. Dia bermimpi, suatu saat bisa membawakan acara talk show di televisi, menjadi Oprah Winfrey versi Asia, yang memberi inspirasi kepada banyak orang melalui pengalaman hidupnya maupun beragam pengalaman manusia yang ditemuinya selama ini.
Kekayaan yang didapatnya di usia muda tidak membuatnya besar kepala. Dia tetap tampil sebagai pribadi sederhana yang hangat dan menyenangkan bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk orang yang baru dikenalnya. Sikap rendah hati juga dia tunjukkan dalam kaitannya dengan pemanfaatan Twitter.
Untuk setiap orang yang menjadi follower-nya di Twitter, Merry langsung menjadi pengikut mereka (following). Karena itu, jumlah following justru lebih banyak dibandingkan jumlah follower-nya, yakni 27,336 orang dan 26,301 orang, berdasarkan data 22 Januari 2011.
Sebaliknya, hampir semua public figure di Twitter memiliki follower yang jauh lebih banyak dibandingkan following. Penyanyi Sherina Munaf yang menduduki ranking pertama untuk follower, misalnya, memiliki 833.540 follower dan hanya mengikuti (following) 4.515 orang. Artis film yang juga pemain drum, Titi Sjuman diikuti 251.061 orang namun hanya mengikuti 168 orang.
Berikutnya, jumlah follower dan following host berbagai acara di televisi, Sarah Sehan (304.759/1.750), mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar (52.021/ 109), tokoh pers Gunawan Mohammad (48.112/ 1.026), dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat (28.231/ 119).
Merry mengikuti semua follower-nya karena dia sadar, ketika dia menjadi follower, dia pun berharap orang yang diikutinya pun melakukan hal yang sama. Selain itu, dia percaya, dari orang-orang biasa yang menjadi follower-nya, dia bisa mendapat berbagai pengalaman dan gagasan yang bisa memperkaya kehidupannya.
Meskipun berkecimpung di dunia bisnis, dia tidak mengabaikan kehidupan rumah tangganya bersama Alva Tjenderasa, yang dijalaninya sejak tahun 2004, yang memberinya seorang puteri yang cantik. Kepada media The New Paper di Singapura, Merry mengungkapkan tips agar rumah tangganya tetap harmonis.
Menurut Merry, having a successful relationship is similar to building a successful business; both need hard work. It takes more than just love to be where we are right now. Dan salah satu tips yang penting dalam membangun pernikahan yang harmonis adalah melakukan komunikasi yang intensif dengan pasangan.

Rumah tangga yang harmonis membuatnya bisa membesarkan MRO bersama sang suami, yang juga lulusan NTU. Berkat dukungan penuh suami, dia pun meraih berbagai penghargaan, seperti Winner of Winner of Spirit of Enterprise Award (2008), Top 5 Female Finalist: 50 Most Gorgeous People (2009), Winner of My Paper Executive Look Readers' Choice Award (2010), Winner of LG Asia Life's Good Ambassador (2010), dan Winner of Great Women of Our Time Award (2010). Kini, dia juga menjadi duta sejumlah produk LG untuk Asia.
Sukses juga tidak membuatnya melupakan sesama. Tak lama setelah bukunya menjadi best seller di Singapura, dia mendirikan Proyek “A Gift From A Friend”, yang diambil dari judul bukunya. Komitmennya, untuk setiap buku yang terjual, dia menyumbangkan satu buku gratis ke institusi/ sekolah/ klub yang mendukung tujuan organisasinya, yakni “kewirausahaan pemuda” (youth entrepreneurship).
Selain itu, melalui program “Personal Mentorship Experience”, dalam sepekan, wanita energik ini menyediakan dua jam dari waktunya yang sangat berharga untuk membimbing anak-anak muda (20-30 tahun), yang ingin mengambil alih kontrol hidup mereka dan memenuhi impian mereka. Semua itu dilakukannya tanpa memungut biaya sepeser pun.
Hal ini sesuai dengan prinsip hidupnya yang ditulisnya di dalam blog: “The purpose of my life is to be significant as God’s living miracle, enjoying every moment and pieces of my miraculous life with my loved ones and testifying my blessed life story to the world as a gift of love for myself and others”.
Dia memang tidak ingin menikmati kekayaan dan suksesnya hanya untuk diri sendiri. Itulah wujud syukur dan rasa terima kasihnya atas cinta yang diberikan orangtua dan keluarganya, yang berhasil membuatnya mampu meraih kekayaan dalam usia yang sangat muda. Merry sadar, cinta telah memotivasinya untuk bekerja keras dan mampu meraih sebagian besar impiannya. Maka, dia pun membayarnya dengan cara membagikan pengalamannya kepada masyarakat lewat berbagai aktivitas sosialnya.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© LOWONGAN KERJA INDONESIA
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top